Sebarkan ilmunya

Menjadi negara teraktif ketiga di dunia dalam penggunaan sosial media, tidak dapat dipungkiri mengutarakan pendapat di berbagai platform media sosial menjadi kebiasaan tersendiri bagi masyarakat Indonesia. Begitu pula dengan Malaysia, yang menduduki peringkat ketiga negara teraktif se Asia Tenggara.

Ramainya penayangan berita dan pernyataan tentang pandemi selama Covid-19 yang ada, tidak semua mengandung kata-kata positif. Beberapa kalimat ditemukan menggunakan kata yang bermakna negatif. 

Dari hal tersebut, Ika Karlina Idris, analis sosial media ini tergerak untuk melakukan riset. Dengan judul “Menyalahkan orang lain: stigma terkait pandemi Covid-19 di Indonesia dan Malaysia” ia mulai lakukan eksplorasi. Dalam riset ini, ia memanfaatkan twitter sebagai platform yang akan diambil datanya. Hal ini karena ia beranggapan bahwa, pernyataan atau berita yang ada di twitter yang mengandung isu-isu tertentu akan mudah menjadi sebuah trending.

Ika Karliana Idris,

Membandingkan konteks kultur yang ada di antara Indonesia dan Malaysia menjadi kunci dalam riset ini. Terutama terdapat sentiment keagamaan  di Malaysia yang berhubungan dengan kegiatan Jamaah Tablig yang tetap diselenggarakan saat awal pandemi merebak.

“Menarik lagi diawal itu ada sentiment negatif ke jamaah tablig di Malaysia, akhirnya kita (tim, red) lihat jangan-jangan ada sentiment keagamaan. Ternyata ya karena itu memang, jamaah tablig kekeh berkumpul” tuturnya pada jurnalis Kata Kawan Magazine.

Pemilik penghargaan Summer Research Excellence Award di tahun 2017 dan 2018 ini, menuturkan bahwa dalam mengatur kata kunci (keyword) untuk riset ini memiliki sedikit kendala. Hal ini karena pengenalan bahasa Indonesia pada twitter dianggap juga sebagai bahasa Malaysia. Untuk mempermudah, Ika menggunakan kata kunci Covid an Indonesia dan Covid an Malaysia.

“Yang menarik, sebenernya kita bisa pakai tools ya untuk mengenali. Jadi ada metode riset analisis konten. Kita melihat konten itu kandungannya apa? terus kita kelompokkan ke dalam kategori stigma yang kita bikin tadi,” ujar research direktor Paramadina Public Policy Institute (PPPI) tersebut.

Hasil yang Ditemukan

Dengan memanfaatkan software Netlitic sebagai analilis media sosial, peneliti di Social Media Research Team/SMARTLab Ohio University itu juga menggunakan human order dalam perhitungan manualnya. Dari 1,106,620 percakapan di twitter mengenai Covid-19 ini, diseleksi dengan mendapatkan sejumlah 24,293 tweet yang didapat dari 16,483 sampel Indonesia dan 7,810 sampel Malaysia. 

“Tadinya kita mau satu bulan di Maret itu. Tapi kesininya kita lihat dinamis ya, covid ini akhirnya perpanjang 2 bulan lagi dan beda ya awalnya Indonesia banyak. Bulan Maret ada 100 lebih, tinggi Indonesia 50 persen tapi pas bulan april itu turun jauh banget mungkin 60, di Malaysia itu 120. Di bulan Mei ilIndonesia itu tweet yang mengandung stigma dibawah 50 di Malaysia sampai 325,” jelas pemeroleh gelar doktor School Media of Arts and Studies, Ohio University tahun 2018 itu.

Sampel bulan Maret hingga Mei yang didapat ini diseleksi dengan kategori stigma, yakni; labelling, responsibility, separation, negative attribution dan status loss. Adapula kategori yang berkaitan dengan physical condition, seperti ketika menstigma terkait kondisi fisik. Atau karakteristik negatifnya, seperti pantas saja terkena corona karena abai dan memang tidak ingin diberitahu. Background, seperti  latar belakang kelompok dan identitas agama.

Dengan begitu ditemukan hasil bahwa di Indonesia terdapat kata mengandung ‘labelling’ sebesar  60.8 persen, diikuti ‘responsibility’ sebesar 18.6 persen, ‘separation’ sebesar 8.8 persen, ‘negative attribution’ sebesar 7.4 persen, dan ‘status loss’ sebesar 4.4 persen. Sedangkan di Malaysia, yang terbesar adalah ‘responsibility‘ sebesar 76.8 persen untuk jamaah tablig, diikuti ‘labelling’ sebesar 13.4% persen, ‘negative attribution’ sebesar 7.7 persen, dan ‘separation’ sebesar 2.2 persen dengan tidak ada stigma.

“Bedanya di Malaysia respon berkaitan tanggungjawab kelompok, seharusnya bisa menghindari penyebaran tapi ternyata gak bisa. Yang menarik kalu di Indonesia itu pas kita kumpulin frekuensi kemunculan kata paling banyak corona di Indonesia frekuensi 170 kata Indonesia,” ungkap aktifis program pemberdayaan humas pemerintah terkait penerapan UU Keterbukaan Informasi Publik tersebut.

Di Indonesia, frekuensi lebih banyak ditemukan di kata “corona” sejumlah 170 kata, “Indonesia” sejumlah 158 kata, “China” sejumlah 128 kata, “Virus” sejumlah 80 kata, “people” sejumlah 27 kata, “negara” sejumlah 18 kata. “wuhan” sejumlah 18 kata, “covid” sejumlah 16 kata, dan “positif” sejumlah 18 kata. 

Sedangkan di Malaysia frekuensi lebih banyak ditemukan di kata “Malaysia” sejumlah 541 kata, “Corona” sejumlah 503 kata, “India” sejumlah 248 kata, “from” sejumlah 159 kata, “Tablighi” sejumlah 143 kata, “Jamaat” sejumlah 135 kata, “virus” sejumlah 132 kata, “Pakistan” sejumlah 128 kata, “they” sejumlah 115 kata, dan “Indonesia” sejumlah 107 kata.

Stigma yang Ada

Ika menuturkan bahwa stigma yang muncul karena suatu hal yang dipersepsikan oleh seseorang tehadap sesuatu. Dimana dalam hal ini terbentuk karena ada yang tweet, ada yang diskusi, dan mengamplifikasi stigma itu.

“Di twitter variasinya apa yang kita temukan aja. Cuma mungkin variasi di platform beda. Karena tiap platform punya audien yang beda, misalkan yang lihat di online news banyaknya jenazah yang ditolak, facebook tetangga yang ditolak,” jelas dosen Graduate School of Communication, Universitas Jakarta tersebut.

Adapula implikasi dalam hal ilmiah diketahui bahwa stigma dari dulu ada karena ada anggapan believe in the just world. Dimana stigma akan tetap ada dan dipercaya. Namun tidak berhenti di situ, ada pula yang terkonfirmasi karena tidak sengaja terkena Covid. 

“Disini masih terjadi stigmatisasi bukan salah manusia, terkena corona itu. Beda di Amerika Serikat, lebih kepada jatuhnya ke konspirasi, padahal gak juga,” tambahnya.

Dengan begitu dalam impliasi secara praktik saat melakukan kampanye menggunakan kata tertentu bisa berarti beda. Sehingga saat membuat kampanye-kampanye harus menghindari penyebutan seperti itu, pilih benar-benar jangan sampai menguatkan stigma. 

Penulis: Asthesia Dhea
Editor: Reka Kajaksana

Beri Komentar