Kelompok bermain adalah contoh dari kelompok sosial
Sebarkan ilmunya

Mata Kuliah Pengantar Sosiologi mengajarkan bagaimana pasangan, keluarga, dan badan bisnis bisa lahir dari masyarakat manusia. Di masa yang makin kompleks ini, manusia telah membentuk beragam kelompok sosial yang pada gilirannya menginternalisasi generasi muda tentang standar benar-salah dan baik-buruk (nilai sosial), dan tata cara berperilaku (norma sosial). 

Setiap anggota dalam kelompok itu memiliki pengalaman bersama. Adik, misalnya, tentu tau apa saja peristiwa memalukan yang pernah menimpa kakaknya. Setiap anggota juga memiliki urusan atau kepentingan yang relatif sama. Tapi, mengobservasi konsep kelompok sosial di dunia nyata bisa membingungkan karena konkritnya agak mirip dengan konsep sosiologi lainnya. Artikel ini membantu kamu mempelajarinya, baik secara konseptual maupun empirik.

Definisi

Ikatanmu dengan teman-teman satu kelas Pengantar Sosiologi dapat dikategorikan sebagai kelompok sosial. Begitu juga dengan orang-orang dalam sebuah tim voli. Kelompok sosial adalah sekumpulan orang, dua atau lebih, yang memiliki kesamaan identitas sosial dan saling berinteraksi secara reguler. Saking biasanya interaksi sosial dilakukan, setiap anggota memiliki ekspektasi atas perilaku dan respon anggota yang lainnya. 

Contoh, beberapa dari temanmu akan menanyai dirimu tugas harian karena kamu dikenal rajin dan pandai. Mereka mengira kamu mencatat semua rincian tugas yang dosen sampaikan di semester ini. Bahkan mereka tidak akan kaget kalau kamu bisa menjawab pertanyaan tersulit yang dosen lempar di kelas. Justru, mereka terkejut kalau kamu tidak bisa menjawab pertanyaan mudah, dan nilainya turun. Mereka memiliki ekspektasi pada dirimu. 

Para anggota juga menyadari bahwa ada suatu tata cara berperilaku, norma, yang mengikat mereka. Misalnya, teman-temanmu tidak suka pada mahasiswa yang ‘pelit jawaban’, dan kalau kamu tidak membantu mereka mungkin saja kamu disindir sana-sini. 

Tapi, tidak semua kumpulan manusia bisa disebut sebagai kelompok sosial. Orang-orang yang berbelanja di pasar, atau yang berada di dalam bus umum lebih tepat disebut sebagai agregasi sosial, yaitu kumpulan orang yang kebetulan sedang bersama di suatu tempat dan tak banyak berinteraksi. Tentu saja para pengunjung pasar saling menyadari keberadaan mereka. Namun tidak akan mungkin mereka membayangkan diri mereka sebagai satu kesatuan. Para pengunjung tidak merasa saling terikat satu dan lainnya.

Ada juga yang disebut sebagai kategori sosial, yaitu orang-orang yang memiliki status atau identitas yang sama. Buruh tani, mahasiswi, penganut agama Kristen, dan semacamnya adalah kategori sosial, bukan kelompok. Sebab, kebanyakan dari mereka tak saling mengenal dan jarang (bahkan tidak pernah) berinteraksi.

Kelompok Primer dan Sekunder

Charles Horton Cooley menyatakan bahwa kehidupan berkelompok dapat dibedakan dari intensitas kebersamaan para anggota di dalamnya. Jadi, dia membagi kelompok sosial ke dalam dua jenis berdasarkan tingkat perhatian antaranggota: kelompok primer, dan kelompok sekunder.

Kelompok primer adalah kelompok sosial yang berukuran kecil, anggotanya berinteraksi secara tatap muka, memiliki kedekatan yang sangat tinggi, dan berkomitmen tinggi untuk terus bersama. Para anggota meleburkan dirinya di dalam kelompok tersebut. Banyak waktu yang mereka lalui bersama dalam berbagai kegiatan, dan mereka merasa saling mengenal begitu dalam. 

Kelompok ini disebut primer karena Cooley percaya bahwa kelompok inilah yang memiliki pengaruh paling besar pada perkembangan diri masing-masing orang. Selain keluarga dan kerabat dekat, pertemanan, geng, dan kelompok sebaya lainnya dapat disebut sebagai kelompok primer.

Kontras dari itu, kelompok sekunder adalah kelompok sosial yang berukuran besar, impersonal, dan jarang memiliki ikatan emosional yang kuat. Para anggotanya tidak memiliki jejak hubungan yang lama, tidak juga memiliki perasaan kesatuan, dan komitmen untuk terus bersama. Itulah mengapa mereka tidak pernah tampil sebagai “diri mereka sendiri”; para anggota selalu memerankan suatu hal. 

Misalnya, berperan sebagai teman belajar atau sebagai rekan jurnalis tanpa berbicara panjang lebar mengenai hal-hal yang personal. Mereka menyembunyikan diri mereka yang sesungguhnya. Jadi tidak banyak pengetahuan personal yang saling dimiliki. Kalaupun ada pertanyaan personal yang diajukan, orang yang ditanya takkan menjawabnya secara penuh, bahkan menolak untuk menjawabnya.

Interaksi yang terjadi dalam kelompok sekunder biasanya formal dan sopan. Semua orang berusaha tampil sebaik mungkin, sesuai norma yang umumnya berlaku. Keberadaan mereka juga tidak lama. Kamu terus mendapatkan dan kehilangan kontak dengan teman kuliah karena mata kuliahnya berganti sepanjang semester. Tapi dalam beberapa kasus, kelompok bisa berubah dari sekunder ke primer. Misalnya seorang teman yang terus duduk bersebelahan dan belajar bersama kamu sepanjang delapan semester. Sepanjang tahun itu, kalian membangun hubungan yang dekat, saling mengenal lebih dalam. 

Ukuran Kelompok Sosial

Mempelajari dan menteorisasikan ukuran kelompok sosial, Simmel menggunakan istilah diad untuk menggambarkan kelompok yang beranggotakan dua orang. Dia menjelaskan bahwa interaksi sosial di diad biasanya lebih intensif daripada kelompok yang lebih besar. Sebab, anggota kelompok besar kurang saling memperhatikan. Pernikahan, pacaran, dan persahabatan umumnya diadik, terdiri dari dua orang. Namun hubungan dalam kelompok diadik tidak stabil. Keduanya harus bekerja sama agar hubungannya bertahan. Kalau ada yang menarik diri, kelompok itu runtuh. Kalau ada konflik, tak mudah bagi mereka untuk menyelesaikan sendiri. Jadi biasanya akan mengundang pihak ketiga. 

Simmel menggunakan istilah triad untuk mengacu pada kelompok dengan tiga orang anggota. Berarti, ada tiga relasi sosial, dan setiap satu orang dari mereka berusaha menguatkan hubungan dua yang lainnya. Triad lebih stabil daripada diad karena satu orang bisa menjadi mediator hubungan antara dua lainnya. Dua aktor juga bisa bekerja sama untuk memaksa pandangan mereka pada yang ketiga, atau bahkan memperdalam hubungan keduanya dan meninggalkan aktor ketiga.

Semakin banyak jumlah anggotanya, kelompok sosial ini akan semakin stabil. Mereka tidak akan mudah goyah walaupun ada anggotanya yang keluar. Pada saat yang bersamaan, makin besarnya jumlah anggota mengurangi intensitas interaksi personal. Itulah mengapa kelompok yang lebih besar bersifat impersonal, dan kelompok yang lebih kecil begitu personal dan menyatu.

Klan dan Suku

Masyarakat sebelum era industri memiliki kelompok sosial yang didasarkan kepada kekerabatan/keturunan. Jadi, pada masa lampau, klan begitu penting secara sosial. Klan adalah keluarga berukuran besar yang biasanya dibagi berdasarkan garis keturunan, baik secara patrilineal (garis orang tua laki-laki) ataupun matrilineal (garis orang tua perempuan). Terkadang, klan mengklaim lahir dari nenek moyang berasosiasi dengan hal-hal mistis. Orang-orang dalam klan yang sama saling mengenal dengan baik dan memiliki pengalaman bersama. Dalam beberapa kasus, mereka membentuk suku, yaitu kelompok yang terdiri dari beberapa klan. Suku biasanya berhubungan dengan ikatan pernikahan dan politik.

Di masyarakat Afrika, klasifikasi kelompok sosial berdasarkan klan dan suku masih penting sebab keduanya relevan pada masa-masa konflik, perpecahan kesukuan. Dulu ada keributan di sekitar pemilu Kenya, awal tahun 2008, ketika kekerasan terjadi antara pendukung Presiden Mwai Kibaki dan Raila Odinga. Kebanyakan pendukung Presiden Kibaki berasal dari suku Kikuyu, sedangkan pendukung Odinga berasal dari  suku Luo. Di Indonesia, klasifikasi ini masih relevan untuk menganalisis, misalnya, persoalan di Papua.

Kelompok berbasis kekerabatan ada di berbagai macam masyarakat manusia, dari yang paling sederhana sampai yang kompleks. Nenek moyang kita, pada masa berburu, hidup secara berkelompok. Para anggota memiliki hubungan kekerabatan yang erat. Setelah mereka mengenal praktik bercocok tanam, kelompok ini membesar dan suku menjadi hal yang penting. Semakin besar masyarakatnya, semakin besar populasinya, kekerabatan menjadi kehilangan nilai pentingnya. Sekarang yang lebih penting umumnya adalah kelas, status, agama, dan etnisitas. Tentu, di masyarakat desa yang masih menjaga tradisinya, “anaknya siapa ini” masih relevan.

In-Group dan Out-Group

Masing-masing dari kita berada di dalam sebuah kelompok. Pada saat yang bersamaan, kita merasa bersaing dengan atau bahkan di atas kelompok lainnya. Kelompok agama Islam bisa merasa superior di hadapan kelompok agama lainnya karena merasa kebenaran sejati dan Tuhan ada dipihaknya. Beberapa mahasiswa yang memandang sinis organisasi mahasiswa eksternal, memandang organisasi internal yang diikutinya lebih baik daripada mereka. Dan tentu saja, masing-masing aktor punya sikap yang berbeda pada kelompok yang disukai dan tidak disukai itu.

Penilaian pada kelompok tertentu menunjukkan cara lain dalam mengklasifikasikan kelompok sosial, yaitu berdasarkan penilaian aktor sosial. In-group adalah kelompok yang dihormati oleh aktor tersebut. Dia memiliki loyalitas yang tinggi terhadap kelompok itu. Sebaliknya, out-group adalah kelompok yang menjadi kompetitor atau oposisi aktor tersebut. Penilaian ini menggambarkan bagaimana dinamika dalam kelompok: bagaimana hubungan dan interaksi antar anggota kelompok dan semacamnya. Seorang ilmuwan bangga pada komunitas ilmiahnya (in-group). Di lain waktu, mereka memandang sinis kelompok-kelompok mistis, merendahkan pandangan mereka. Dalam kasus ini, kelompok mistis itu adalah out-group baginya.

Teori Kelompok Referensi

Teori kelompok referensi adalah salah satu teori middle-range di sosiologi, jenis teori yang di advokasikan oleh Robert K. Merton. Ide utamanya adalah bahwa sikap dan kepercayaan dianut para aktor mengacu pada orang atau kelompok tertentu. Pengacuan ini dilakukan secara ‘alamiah’. Seseorang dapat mengacu pada salah satu pebisnis terkaya di Indonesia, atau Michio Kaku, seorang ilmuwan alam yang hebat. Meski jarang bahkan tak pernah berinteraksi, mereka sangat bangga dengan orang-orang yang diacunya dan mengimitasi perilaku dan kepercayaannya. (MoAl)

Beri Komentar