Sebarkan ilmunya

Kerusakan lingkungan dan perubahan iklim merupakan salah satu masalah nyata yang dihadapi oleh kita semua hingga hari ini. Eksploitasi alam kerap dilakukan oleh manusia tanpa mempertimbangkan akibat di kemudian hari, salah satunya adalah alih fungsi hutan. Kondisi lingkungan sangat berpengaruh pada kelangsungan hidup manusia. Kondisi tanah dan air yang tercemar di suatu tempat mempengaruhi hasil bumi yang menjadi sumber utama pangan manusia yang tinggal disekitarnya. 

Upaya-upaya pemulihan lingkungan terus dilakukan oleh banyak lapisan masyarakat, untuk mengembalikan bumi ke kondisi yang lebih baik. Masyarakat adat juga berperan penting dalam melindungi hutan dan lingkungan. Dalam studinya, Ary Sulistyo menceritakan upaya masyarakat adat Sunda Kampung Cengkuk di Pegunungan Halimun Selatan dalam menghindari kerusakan lingkungan lewat praktek eko-religi.

Eko Sulistyo, peneliti ekologi manusia

Eko-religi, menurut Ary, adalah upaya pelestarian lingkungan yang dilakukan oleh suatu masyarakat dengan sistem kepercayaan yang mereka anut. Kampung Cengkuk terletak di Desa Margalaksana, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Masyarakat setempat mayoritas beragama Islam, namun masih kuat menganut tradisi Sunda Wiwitan. 

Sunda Wiwitan adalah kepercayaan masyarakat Sunda yang menitikberatkan pada ajaran-ajaran (pikukuh) nenek moyang atau leluhur di kehidupan sehari-hari. Mereka percaya bahwa lingkungan tempat tinggal mereka adalah pusat bumi dan alam semesta, sehingga keberlangsungannya harus dipelihara agar mereka mendapatkan kesejahteraan. “Upaya pelestarian lingkungan di Kampung Cengkuk lewat ajaran-ajaran ini sudah berlangsung sejak abad ke-13, walaupun masih menjadi perdebatan kapan mereka sudah ada,” ujarnya.

Hutan dan lingkungan dapat dibahas dari berbagai aspek, seperti aspek pelestarian dan masyarakat adat yang hidup di dalamnya. Menggunakan metode kualitatif-deskriptif, Ary menggabungkan kedua bahasan ini dalam studinya. Fokusnya kepada konsep kearifan lingkungan masyarakat Kampung Cengkuk. “Saya melihat bagaimana tradisi, budaya, upacara-upacara adat, hingga tata ruang kampung yang ada dalam masyarakat ini sesuai atau tidak dengan konsep pelestarian lingkungan,” ujar alumni Studi Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia ini.

Tim Ahli Cagar Budaya Kota Depok itu menjelaskan bahwa masyarakat Sunda secara keseluruhan mempunyai dua karakter, yaitu karakter masyarakat panyawah dan pahuma. Masyarakat panyawah yang biasa ditemui di daerah dataran rendah ini bercocok tanam dengan cara bersawah. Masyarakat pahuma melakukan kegiatan cocok tanam di ladang dan biasa ditemui di daerah pegunungan, termasuk masyarakat di kampung yang terletak pada ketinggian 382 hingga 415 mdpl ini. “Mereka menanam sawah, tapi sawahnya sawah-ladang. Jenis padinya pun berbeda, yaitu padi ladang yang lebih resisten terhadap air, jadi tidak butuh banyak air,” jelasnya.

Dikelilingi oleh hutan lebat merupakan salah satu alasan utama mengapa masyarakat di kampung, yang berbatasan langsung dengan kawasan konservasi Taman Nasional Gunung Halimun Salak ini menerapkan sistem cocok tanam sawah-ladang. Sawah irigasi membutuhkan bentangan lahan yang luas serta sistem peririgasian yang intensif. Hal ini membutuhkan pembukaan lahan yang luas dan menyebabkan alih fungsi lahan hutan yang semula berekosistem heterogen menjadi lahan tanam monokultur. Selain itu, ekosistem asli hutan akan dianggap sebagai hama di persawahan, sehingga dibutuhkan pestisida untuk mengusirnya.

Intervensi manusia terhadap lingkungan ini lah yang menyebabkan kerusakan lingkungan. Karena itu, masyarakat kampung yang berada di bawah Kasepuhan Ciptagelar ini, tidak berani untuk mengalihfungsikan lahan hutan. “Prinsip eko-religi mereka adalah ‘leuweung teu menang diratakeun, leuweung teu menang ditebang, lan teu menang di ruksak’. Hutan tidak boleh diratakan, ditebang, dan dirusak,” ujar dosen di Universitas Mercubuana ini.

Pelestarian lingkungan yang dilakukan masyarakat Kampung Cengkuk lainnya adalah, melakukan kegiatan-kegiatan pertanian yang dianggap sakral dan diperingati dalam upacara-upacara daur pertanian mereka. Upacara adat tahunan yang paling besar adalah Seren Taun. Masyarakat Kasepuhan Ciptagelar ramai-ramai datang ke kampung inti, yaitu Kampung Ciptagelar, sembari membawa beberapa ikat padi untuk diletakkan di leuit agung (lumbung padi utama). 

Secara adat, upacara yang biasa dilakukan sekitar bulan Agustus ini merupakan persembahan kepada Nyi Pohaci (Dewi Sri). Upacara ini juga menghindarkan masyarakat dari krisis pangan di masa paceklik. Masyarakat setempat menganggap padi sebagai nyawa mereka, sehingga kegiatan jual beli padi pun dilarang. Hanya hasil bumi selain padi yang boleh diperjualbelikan, seperti pisang, durian, cengkih, ubi, singkong, dan lain sebagainya. Penanaman berbagai jenis sayuran juga masih dilakukan secara organik, tanpa pestisida dan pupuk.

Kegiatan masyarakat kampung yang terkenal dengan Situs Tugugede ini akhirnya dibagi menjadi dua jenis, yaitu kegiatan sakral dan profan. Kedua kegiatan ini juga dipengaruhi oleh letak geografis perkampungan Kasepuhan Ciptagelar yang tersebar di Pegunungan Halimun Salak. Semakin tinggi letak kampung secara geografis, semakin sakral dan tinggi posisi kampungnya secara adat. 

Hal ini dipengaruhi oleh lebatnya hutan di sekitar kampung inti, yang menyebabkan masyarakat setempat percaya bahwa tak boleh sembarang orang masuk demi menjaga keaslian hutan inti, atau yang disebut leuweung kolot oleh masyarakat setempat. Kegiatan bercocok tanam di sekitar kampung inti juga dibatasi, agar kondisi lahan tidak terlalu banyak mengalami intervensi. Kegiatan bercocok tanam yang sifatnya profan akhirnya dilakukan di kebun talun (perkebunan) yang berada di lahan yang relatif landai.

Tantangan dan Solusi

Masyarakat Kampung Cengkuk melakukan pertanian subsisten, mereka hanya membudidayakan bahan pangan dalam julmah yang cukup untuk diri sendiri dan keluarga. Kegiatan bercocok tanam yang dilakukan seperlunya ini bertolak belakang dengan pertambahan penduduk yang tinggi, yaitu 5,35 per sen tiap tahun. Mereka menjadi terdesak untuk membuka lahan baru untuk ditanami tanaman yang sifatnya lebih ekonomis. 

Selain masalah alih fungsi lahan, masyarakat Kampung Cengkuk juga dihadapkan dengan tantangan lain, seperti kualitas sumber daya manusia, penambangan emas, pembabatan hutan, masalah sampah, kunjungan dari pengunjung wisata Taman Nasional, dan lain sebagainya. 

Ary mengatakan bahwa ia percaya permasalahan masyarakat di kampung yang bersuhu rata-rata 31,8° celsius per bulan ini dapat diminimalisir dengan intervensi teknologi. “Prinsipnya dengan teknologi tepat guna seperti sustainable farming. Lalu, jika ingin membatasi penanaman suatu bahan pangan, saat hendak dijual, bisa diolah dulu agar daya jualnya lebih tinggi, jadi tidak hanya menjual bahan mentah saja,” ujarnya.

Lewat eko-religi dan bantuan teknologi, konsep environmental possibility sudah diterapkan di kawasan perkampungan adat. Environmental possibility bermakna bahwa masyarakat sudah punya kemampuan memanfaatkan alam sesuai dengan kebutuhan tanpa melakukan perusakan, sehingga terciptalah pelestarian lingkungan yang berkelanjutan. 

Kondisi ini dapat dijadikan bahan pertimbangan bagi pemerintah daerah setempat untuk merumuskan kebijakan yang dapat membangun wilayah dan meningkatkan sumber daya manusia dengan melihat potensi kampung. “Supaya pembangunan itu tepat sasaran dan berkelanjutan, kebijakan pemerintah juga harus melihat karakter masyarakat di Kampung Cengkuk ini,” ujar mantan Staf Unit Pengelola Kota Tua Jakarta ini.

Penulis: Pulina Nitya
Editor: Reka Kajaksana

Beri Komentar