Sebarkan ilmunya

Kuliah Kerja Nyata (KKN) sampai hari ini telah menjadi agenda universal di setiap jurusan atau program studi, yang katanya demi melengkapi satu dari ketiga tri dharma perguruan tinggi, yakni; pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat.

Secara umum, kita mengenal KKN sebagai penerjunan kelompok-kelompok mahasiswa ke komunitas lokal di desa-desa untuk mengabdi disana. Lantas mereka diharapkan dapat belajar, menemukan problem sosial, hingga merumuskan program yang tepat untuk menyelesaikan problem dalam komunitas tersebut.

Namun kenyataannya, agenda bermuatan misi kemanusiaan tersebut terlanjur jatuh ke dalam dialog seputar cinta lokasi selama KKN, serta program-program kegiatan yang dirancang serampangan, sehingga tidak memberikan solusi bagi problem sosial paling fundamental bagi komunitas. Kegagalan semacam ini utamanya disebabkan karena satu hal, yaitu tidak dibekalinya mahasiswa KKN dengan skill pemetaan yang memadai.

Sehingga, kedatangan mereka di lokasi KKN membuahkan kebingungan soal apa saja yang harus dikerjakan. Lalu berminggu-berminggu setelahnya dihabiskan untuk aktivitas yang tidak produktif, dan pada minggu akhir, program yang dihasilkan juga dipastikan tidak berasal dari pembacaan yang baik tentang problem sosial yang aktual disana.

Namun, disini penulis tidak hendak menceritakan pengalaman pribadi selama mengikuti kegiatan KKN, sebaliknya hendak menceritakan refleksi selama mendampingi satu komunitas, dimana tiga tahun sebelumnya pernah didatangi kelompok mahasiswa KKN dari salah satu PTN terkenal di Surabaya. Lokasi tersebut bertempat di Dusun Jolotundo, Desa Jolotundo, Kec. Jetis, Kab. Mojokerto.

Berdasarkan informasi masyarakat disana, keseharian kelompok mahasiswa KKN tadi disana hanya kebanyakan membantu mengajar anak-anak di TPQ dan bersih-bersih kampung. Lalu selepas KKN, mereka meninggalkan dua set media hidroponik siap pakai, sebagai program portofolio KKN.

Dan penulis tahu sendiri bahwa dua set media hidroponik tersebut terbengkalai tidak terurus saat kali pertama kedatangan penulis pada 7 September 2019 silam. Saat ditanyakan pada warga setempat, mereka mengaku bahwa sudah tidak ada yang sempat mengurus, jadinya tidak dimanfaatkan lagi.

Kalau dihitung, masa KKN adalah 40 hari dengan menginap di lokasi penerjunan. Tentunya 40 hari berinteraksi intens dengan masyarakat setempat adalah waktu yang sangat cukup, untuk sekedar mengidentifikasi problem sosial yang sedang mereka hadapi. Kombinasi antara observasi, wawancara dan FGD, seharusnya sudah cukup memberikan premis-premis menarik untuk kemudian ditelisik lebih lanjut.

Sebab, penulis sendiri juga pernah melakukan pemetaan di lokasi yang sama sebagai tugas lapangan Mata Kuliah Pemetaan dan Analisis Sosial, dengan total kunjungan tidak sampai 20 hari. Ditambah tidak secara kontinu, karena hanya dilakukan di akhir pekan. Namun, hasil pemetaan penulis mengungkapkan bahwa menghadiahkan media hidroponik bukanlah yang dibutuhkan oleh masyarakat setempat.

Disana masyarakatnya mayoritas bercocok tanam jagung, dengan kepemilikan lahan yang rata-rata 1400 m2 dan pola pertanian tadah hujan. Diketahui yang masih bertahan menggarap tanah hanya generasi yang tua, dengan tujuan meneruskan tradisi “wong tani” generasi sebelumnya, walaupun nyatanya rerata harga hasil panen mereka juga tergolong rendah, perkilo jagung mentah hanya dihargai Rp. 2.700,- saja. Pernah penulis selidiki lebih dalam, kawasan pertanian mereka didominasi tanah kapur, mereka juga sadar bahwa itu alasan kualitas hasil panen mereka selalu stagnan. Lalu, mengetahui bahwa bertani tidak lagi menguntungkan, generasi yang lebih muda mayoritas mencari peruntungan menjadi buruh pabrik di Mojokerto, Gresik hingga Surabaya. Mereka tidak tertarik membantu orang tuanya untuk melanjutkan bertani. Sampai disini, penulis sadar bahwa problem serumit ini tidak akan dapat diselesaikan dengan dua set hidroponik. Kelompok mahasiswa itu benar-benar keliru membaca problem sosial disana.

Lanjut, lokasi tersebut masuk ring utara Kabupaten Mojokerto, yang menurut Rencana Tata Ruang Wilayah 2012-2032 diklasifikasikan sebagai kawasan industri. Terbukti sudah berdiri 19 industri besar di kawasan ini, berdasarkan catatan penulis. Lantas, dalam naskah Rencana Tata Ruang Wilayah yang sama, Pemkab sendiri sudah menyadari bentang alam ring utara Mojokerto yang didominasi perbukitan kapur, dengan mencantumkan strategi konservasi sumberdaya air dengan pembangunan embung (cekungan buatan untuk tangkapan air hujan) untuk memperbaiki struktur tanah agar nantinya bisa berdampak pada perbaikan keberlanjutan pertanian di ring utara Kabupaten Mojokerto. Problem selanjutnya, adalah pembangunan embung belum pernah direalisasikan hingga hari ini, makanya penulis menemukan bahwa kualitas panen mereka selalu stagnan dari tahun ke tahun, yang kemudian berdampak pada menurunnya angkatan kerja sektor pertanian.

Mereka jauh lebih membutuhkan bagaimana menyelesaikan problem pertanian daripada dihadiahkan media hidroponik, dimana merawatnya juga butuh biaya tambahan, sedangkan mereka saja berusaha bertahan hidup dengan pendapatan yang bertumpu pada upah menjadi buruh dan petani jagung. Jelas mereka lebih memilih menghidupi keluarganya sendiri daripada sayuran di hidroponik.

Kembali pada premis Kuliah Kerja Nyata, bahwa sebenarnya pengabdian masyarakat berubah menjadi ajang eksperimen bertahan hidup di lingkungan pedesaan, bukannya misi kaum intelektual untuk mencurahkan akal pikirannya demi menyelesaikan problem yang aktual di masyarakat. itulah yang terjadi kalau yang dikejar adalah publisitas portofolio, namun lalai dalam mempersiapkan wawasan, skill dan mental mahasiswa-mahasiswa yang diterjunkan ke lokasi KKN.

Editor: Reka Kajaksana

Muhamad Iqbal Abdilah Mustofa

Saya menjadi mahasiswa di Prodi Pengembangan Masyarakat Islam UIN Sunan Ampel Surabaya sejak tahun 2017. Selama 6 semester terakhir, saya ditempa untuk beradaptasi dengan dinamika lapangan riset aksi, dimana membuahkan berbagai pengalaman yang menarik.

Beri Komentar